Potret Pasar Rakyat Lenteng Barat: Kumuh, Becek, dan Terasa Ditinggalkan Negara

Sumenep,RPN-Kondisi Pasar Rakyat Lenteng Barat, Kecamatan Lenteng, kian memprihatinkan. Pasar tradisional yang berada di timur kediaman almarhum Kiai Masyhurat itu justru menampilkan wajah buram pelayanan publik: jalanan becek, drainase tersumbat, lapak semrawut, hingga tumpukan sampah yang kerap dibiarkan menumpuk. Ironisnya, pasar ini tetap menjadi urat nadi ekonomi warga sekitar.

Pantauan di lokasi menunjukkan, setiap hujan turun, genangan air bercampur lumpur menguasai lorong-lorong pasar dan kerap aktivitas jual beli pun terganggu, Pedagang dan pembeli harus ekstra hati-hati agar tidak terpeleset.

Tak hanya itu, bau tak sedap dari sampah basah semakin menambah ketidaknyamanan, seolah mempertegas kesan bahwa pasar ini luput dari sentuhan kebijakan serius.

“Kalau hujan, pasar ini seperti kubangan. Pembeli banyak yang enggan masuk,” keluh Siti Aminah (45), pedagang sayur yang sudah belasan tahun berjualan, Jum’at (23/01/2026).

Ia menilai, kondisi tersebut berdampak langsung pada jual beli.

“Kami tetap bayar retribusi, tapi perbaikan nyaris tak terlihat,” tambahnya.

Keluhan serupa disampaikan Herman (52), pengunjung asal desa tetangga. Menurutnya, Pasar Lenteng Barat ini kalah tidak jauh beda dengan pasar tradisional lain di beberapa kecamatan.

“Padahal lokasinya strategis dan ramai. Sayang kalau dibiarkan seperti ini,” ujarnya.

Ia berharap ada penataan menyeluruh, bukan sekadar tambal sulam. Tak sedikit warga menilai, pasar ini seperti ditinggalkan negara.

“Minimnya penerangan, kondisi bangunan yang mulai rapuh, serta tidak adanya pengelolaan sampah yang terjadwal memperkuat kesan pembiaran.

“Kalau terus begini, pasar tradisional bisa kalah dari toko modern,” kata Rukayah (38) dari desa Bilapora yang menjadi pembeli rutin di Pasar Lenteng Barat ini.

Lebih dari sekadar persoalan estetika, kondisi Pasar Rakyat Lenteng Barat menyentuh aspek kesehatan dan keselamatan. Air tergenang berpotensi menjadi sumber penyakit, sementara lantai licin mengancam keselamatan pengunjung.

Di tengah gencarnya jargon penguatan ekonomi kerakyatan, potret pasar ini justru menampar nurani.

Masyarakat berharap pemerintah daerah tidak menutup mata. Revitalisasi menyeluruh mulai dari drainase, sanitasi, penataan lapak, hingga manajemen kebersihan menjadi kebutuhan mendesak.

Pasar rakyat bukan sekadar tempat transaksi, melainkan ruang hidup ekonomi warga yang seharusnya dijaga martabatnya.

Jika dibiarkan berlarut, Pasar Rakyat Lenteng Barat akan terus menjadi simbol ketimpangan perhatian yang ramai oleh aktivitas, namun sunyi dari kebijakan yang berpihak.

Hingga berita ini ditayangkan belum ada konfirmasi lebih lanjut dari DKUPP Sumenep.

zain_rpn

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

× How can I help you?