Sumenep,RPN-Memasuki semester pertama pengembangan Badan Usaha Milik Desa (BUMDesa) sektor pangan, Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (DPMD) Kabupaten Sumenep mulai mengintensifkan peninjauan langsung ke lapangan sekaligus membuka peluang kemitraan strategis.
Langkah ini dilakukan sebagai upaya mendorong BUMDesa tidak hanya memenuhi kebutuhan pangan lokal, tetapi juga mampu menembus pasar yang lebih luas, seperti kebutuhan dapur SPPG, pasar lelang hingga pasar modern.
Pelaksana Tugas Kepala DPMD Sumenep, Anwar Syahroni Yusuf AP,M.Si., melalui Kepala Bidang Pemberdayaan Usaha Ekonomi dan Kerjasama Desa (PUEKD), Fadholi, S.T., M.T., menyampaikan bahwa pihaknya terus melakukan monitoring berkelanjutan terhadap perkembangan usaha desa di berbagai sektor.
“Peninjauan kami lakukan secara intens dan berkesinambungan. Alhamdulillah, seluruh sektor mulai bergerak, mulai dari pertanian, peternakan, perikanan hingga perkebunan skala kecil. Bahkan, sudah ada yang memproduksi dan menjual gabah kering, beras, telur broiler, daging ayam hingga hasil perikanan,” jelas Fadholi.
Menurutnya, BUMDesma Pangan yang dikelola oleh pemerintah desa saat ini masih dalam tahap awal, sehingga prioritas utama masih difokuskan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat sekitar. Bahkan, dalam beberapa komoditas, produksi masih belum sepenuhnya mencukupi permintaan lokal.
“Untuk sektor peternakan, seperti ayam petelur dan ayam pedaging, kapasitasnya masih berkisar antara 500 hingga 1.500 ekor. Ini wajar karena usaha ini masih perdana dan tentu akan menghadapi dinamika, termasuk tantangan di lapangan,” imbuhnya.
Meski demikian, Fadholi menegaskan bahwa keberadaan BUMDesa Pangan telah memberikan dampak positif bagi perekonomian masyarakat desa. Ke depan, DPMD menargetkan terbentuknya sentra-sentra produksi berbasis desa sesuai dengan potensi wilayah masing-masing.
“Setiap desa nantinya kita dorong menjadi sentra unggulan, seperti sentra telur, beras, ikan maupun komoditas lainnya. Contohnya, di Kalianget dan Kasengan yang mulai berkembang dengan budidaya melon, sementara di Ganding dikenal dengan produksi telurnya,” paparnya.
Lebih lanjut, ia menekankan bahwa seluruh kegiatan usaha BUMDesa tetap harus dilakukan melalui kolaborasi lintas sektor, termasuk dengan penyuluh pertanian, dokter hewan, serta unsur TNI-Polri seperti Babinsa dan Bhabinkamtibmas.
“Kolaborasi ini penting untuk menjaga kualitas produksi dan keberlanjutan usaha. Jika ada perubahan jenis budidaya, harus melalui Musyawarah Desa (Musdes) agar tetap sesuai dengan kebutuhan dan kesepakatan masyarakat,” tegasnya.
Fadholi juga menyoroti rencana penguatan kemitraan sebagai langkah strategis dalam memperluas pasar hasil produksi BUMDesa. Menurutnya, kemitraan ini menjadi kunci agar produk desa memiliki nilai tambah dan daya saing lebih tinggi.
“Kami mulai melirik kemitraan dengan berbagai pihak agar hasil produksi tidak hanya terserap di tingkat lokal, tetapi juga bisa masuk ke pasar yang lebih luas. Ini penting untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat desa,” ujarnya.
Di akhir, ia berharap program BUMDesa Pangan terus berkembang secara berkelanjutan dan menjadi motor penggerak ekonomi desa.
“Setiap proses, baik keberhasilan maupun tantangan, akan menjadi pembelajaran berharga. Mulai dari pengelolaan bibit, pakan, hingga komoditas, semuanya akan memperkuat kapasitas desa ke depan,” pungkasnya.
zain_rpn












