Sumenep,RPN-Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang digulirkan pemerintah untuk meningkatkan kualitas gizi anak justru menuai keluhan dari sejumlah wali murid dan siswa-siswi di wilayah Kecamatan Lenteng, Kabupaten Sumenep. Sorotan tersebut mengarah pada penyaluran MBG kering yang dikelola Dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Lenteng Timur 2, pada Sabtu (20/12/2025).
Keluhan utama datang dari kemasan MBG yang disajikan kepada siswa. Para siswa diminta mengembalikan kemasan makanan, sementara pada saat penyaluran mereka tidak membawa tas, sehingga menyulitkan dan dinilai kurang praktis.

“Kalau sekiranya merepotkan seperti ini kenapa tidak memakai kresek saja. Satu sisi anak membawa raport, dan lainnya membawa buah, susu dan roti. Sementara siswa-siswi tidak membawa tas karena masa tenang sekolah. Pas datangnya jelang kepulangan siswa. ayolah yang simpel-simpel saja,” keluh M (inisial) salah seorang wali murid di sela-sela kesibukannya dalam menjemput anaknya.
“Tidak usah banyak gaya-gaya pakai kemasan yang di sablon kadang ujung-ujungnya harus dikumpulin kembali,” imbuhnya.
Tak hanya soal kemasan, menu MBG kering yang diterima siswa juga menuai kritik tajam. Pasalnya, makanan yang dibagikan dinilai terlalu sederhana dan minim variasi, hanya terdiri dari tiga item, yakni satu buah roti merek Aoka, satu susu kemasan kecil Indomilk Kids, dan satu buah pir.

Jika dihitung secara kasar, nilai makanan tersebut diperkirakan hanya berkisar Rp7.000 hingga Rp8.000 per porsi, dengan rincian roti sekitar Rp2.000, susu Rp3.000, dan buah pir sekitar Rp3.000. Angka ini dinilai jauh di bawah standarisasi anggaran MBG yang disebut-sebut berada di kisaran Rp10.000 untuk bahan makanan, bahkan dengan total anggaran mencapai sekitar Rp15.000 per porsi, termasuk biaya proses dan distribusi yang disebut telah dialokasikan sekitar Rp5.000.
“Kalau hanya sekitar Rp7.000–Rp8.000 per porsi, lalu sisanya ke mana? Bayangkan jika selisih sekitar Rp2.000 saja dikalikan ribuan siswa di wilayah distribusi,” ungkap salah satu wali murid lainnya yang enggan disebutkan namanya.
Kondisi ini memicu pertanyaan publik terkait transparansi dan kesesuaian penggunaan anggaran MBG, terlebih program tersebut menyasar ribuan siswa yang sedang berada dalam masa pertumbuhan.
Selain aspek biaya, kandungan gizi menu MBG kering juga menjadi sorotan serius. Sebagai dapur pengelola yang direkomendasikan dan berada di bawah pengawasan Badan Gizi Nasional, serta disebut menempatkan dokter gizi sebagai bagian dari sistem pengawasan, menu yang disajikan dinilai tidak memenuhi prinsip gizi seimbang.
Dari tiga menu yang diberikan, dinilai tidak terdapat protein hewani seperti telur, ikan, atau daging, serta tidak ada sayuran. Kandungan gizi yang ada hanya berasal dari karbohidrat (roti), susu, dan buah.

Kondisi tersebut dinilai tidak sejalan dengan tujuan utama Program MBG, yakni pemenuhan gizi seimbang untuk mendukung pertumbuhan fisik, perkembangan otak, serta peningkatan kualitas kesehatan anak secara optimal.
“Kalau hanya roti, susu kecil, dan buah, ini belum cukup untuk memenuhi kebutuhan gizi anak, apalagi protein hewani yang sangat penting,” ujar salah satu wali murid lainnya.
Hingga berita ini ditayangkan, belum ada keterangan resmi atau tanggapan dari pihak SPPG Lenteng Timur 2 maupun leading sector terkait mengenai keluhan wali murid dan siswa-siswi tersebut. Media ini masih berupaya melakukan konfirmasi lanjutan guna memperoleh klarifikasi dan penjelasan resmi agar informasi yang disajikan tetap berimbang.
zain












