Sumenep,RPN-Kepala Lembaga Pemasyarakatan (Kalapas) Rumah Tahanan (Rutan) Kelas IIB Sumenep, Aditya Wahyu Rahmadani, menegaskan bahwa stigma Rutan sebagai tempat yang menyeramkan sudah tidak relevan lagi. Saat ini, Rutan Kelas IIB Sumenep justru diarahkan menjadi pusat pembinaan, pembentukan karakter, serta peningkatan keterampilan bagi warga binaan.
Menurut Kalapas yang akrab disapa Adit, berbagai program kemandirian telah dijalankan guna menyiapkan warga binaan agar siap kembali dan berdaya saing di tengah masyarakat.
“Rutan bukan sekadar tempat menjalani hukuman, tetapi tempat pembinaan. Ketika warga binaan keluar dari sini, mereka sudah punya bekal keterampilan dan aktivitas positif,” ujar Adit, Senin (05/12).
Ia menyebutkan, Rutan Kelas IIB Sumenep saat ini aktif mengembangkan sejumlah kegiatan produktif, di antaranya kesenian batik, budidaya bonsai, serta pengelolaan sektor pangan. Bahkan, produk batik hasil karya warga binaan telah tampil di berbagai event dan kontes, baik tingkat daerah maupun nasional.
“Batik karya warga binaan ini sudah ikut pameran. Tidak menutup kemungkinan instansi pemerintah maupun masyarakat bisa melakukan pemesanan,” jelasnya.
Selain batik, pembinaan seni budaya juga terus digalakkan melalui pelatihan hadrah dan saronen, sehingga suasana Rutan menjadi lebih hidup, produktif, dan jauh dari kesan menakutkan.
Ke depan, pihak Rutan akan memperkuat kolaborasi dengan pemerintah daerah, khususnya Dinas Ketenagakerjaan, untuk menyiapkan pelatihan keterampilan yang sesuai dengan kebutuhan pasar kerja.
“Kami akan latih keterampilan seperti menjahit, las listrik, pertukangan, dan skill lain yang dibutuhkan masyarakat,” imbuhnya.
Untuk batik sendiri, motif yang dikembangkan mengangkat ikon khas Kabupaten Sumenep, seperti keris dan burung, sebagai identitas daerah. Saat ini, sekitar 19 warga binaan aktif mengikuti program batik tersebut.
Tak hanya itu, Rutan Kelas IIB Sumenep juga telah menjalin kerja sama dengan sejumlah instansi, di antaranya Bank Jatim dan Puskesmas, dalam mendukung program pembinaan.
Di sektor pangan, Rutan Sumenep turut mendukung program Asta Cita Presiden dengan mengelola lahan sawah seluas sekitar satu hektare serta mengembangkan budidaya ikan air tawar di dalam lingkungan rutan.
“Harapan kami, setelah kembali ke masyarakat, warga binaan sudah memiliki ilmu dan keterampilan, bisa bekerja secara mandiri, dan tidak mengulangi pelanggaran hukum,” pungkas Adit.












