Miris, Sumbang PAD Miliaran Rupiah, Sarana Pasar Tradisional di Sumenep Masih Jauh dari Kata Layak

Sumenep,RPN-Pasar tradisional selama ini menjadi urat nadi perekonomian rakyat kecil. Ia berfungsi sebagai pusat distribusi produk lokal, ruang hidup UMKM, sekaligus penyerap tenaga kerja. Ironisnya, peran strategis itu tidak sebanding dengan kondisi sarana dan prasarana yang diterima para pedagang dan pengunjung pasar di Kabupaten Sumenep.

Hasil investigasi media ini di lapangan menunjukkan kondisi memprihatinkan di Pasar Lenteng. Sejumlah ruko tampak mengalami kebocoran parah, dinding mengelupas, hingga atap yang rapuh dan berjatuhan. Situasi ini bukan sekadar soal estetika, melainkan ancaman nyata terhadap keselamatan pedagang dan pengunjung yang lalu lalang setiap hari.

Tak hanya bangunan, fasilitas umum pun luput dari perhatian. Jalan utama pintu masuk sisi selatan dan tengah pasar dilaporkan sudah beberapa kali ditimbun secara swadaya oleh masyarakat sekitar, di luar anggaran resmi pemerintah daerah. Kondisi tersebut mengindikasikan lemahnya perawatan infrastruktur pasar yang seharusnya menjadi tanggung jawab negara.

Salah satu warga yang bermukim di sekitar pasar menyebutkan bahwa bangunan ruko di Pasar Lenteng dibangun sekitar tahun 1987. Artinya, usia bangunan telah mendekati empat dekade tanpa revitalisasi signifikan.

“Tahun 87 pembangunan itu, Mas. Kalau aspalnya, jangan bicara lagi, sudah hanyut air mas,” ujar warga saat berbincang santai dengan media ini di salah satu sudut pasar, Selasa (21/01/2026).

Kondisi ini semakin ironis jika disandingkan dengan kontribusi sektor pasar terhadap Pendapatan Asli Daerah (PAD). Data Dinas Koperasi, UMKM, Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Sumenep mencatat realisasi PAD sektor pasar tahun 2025 mencapai sekitar 92 persen. Dari target sekitar Rp2,6 miliar, realisasi pendapatan menembus angka Rp2,372 miliar.

Kepala DKUPP Sumenep, Mohammad Ramli, sebelumnya menyampaikan bahwa capaian tersebut tergolong baik, mengingat kompleksitas pengelolaan pasar yang bersentuhan langsung dengan aktivitas ekonomi masyarakat. Bahkan, beberapa pos retribusi melampaui target, seperti parkir yang mencapai 102 persen dan pelataran hingga 110 persen. Sementara itu, retribusi los pasar masih belum optimal.

Namun di sinilah letak ketimpangannya. Pedagang kecil yang menjadi tulang punggung pencapaian PAD justru harus berjualan di tengah fasilitas yang usang, minim perawatan, dan berpotensi membahayakan keselamatan. Timbal balik antara kontribusi ekonomi dan perhatian pemerintah tampak tidak seimbang.

Di sisi lain, pasar tradisional kini menghadapi tekanan berat dari menjamurnya pasar modern yang merangsek hingga ke tingkat bawah. Tanpa dukungan infrastruktur memadai, pasar tradisional semakin terdesak, baik dari sisi kenyamanan, kebersihan, maupun keamanan. Padahal, pasar ini menjadi ruang ekonomi utama bagi masyarakat kelas menengah ke bawah, sekaligus etalase hasil produksi petani lokal.

Kondisi ini menegaskan urgensi campur tangan serius pemerintah daerah, bahkan pemerintah pusat, untuk melakukan revitalisasi menyeluruh pasar tradisional. Tanpa langkah nyata, pasar rakyat berisiko terus terpinggirkan, meski faktanya ia masih menjadi salah satu penyumbang signifikan PAD dan denyut utama perekonomian lokal.

 

zain_rpn

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

× How can I help you?